Minggu, 13 September 2009

tht

HIPERTROPI ADENOID

Adenoid ialah massa yang terdiri dari jaringan limfoid pada dinding ponterior nasofaring, termasuk rangkaian cincin Waldeyer. Jaringan adenoid di nasofaring terutama ditemukan pada dinding atas posterior, walaupun dapat meluas ke fosa Rosenmuller dan orifisium tuba ustachius. Ukuran adenoid bervariasi. Adenoid mencapai ukuran maksimal pada usia prasekolah dan usia sekolah awal. Terjadi resolusi spontan, sehingga pada usia 18-20 tahun jaringan adenoid biasanya tidak nyata pada pemeriksaan nasofaring tidak langsung.

Adenoid ikut berperan dalam sistem imun tubuh, sebagaimana jaringan limfe yang lain ia berperan melawan agen-agen penyebab infeksi seperti virus dan bakteri dan akan membentuk antibodi. Adenoid juga berada tepat dibelakang jalan nafas, maka dia membantu mencegah masuknya agen-agen infeksius yang mungkin ikut terhisap saat bernafas

Adenoid sering membesar akibat ISPA yang berulang. Hipertropi adenoid dihubungkan dengan obstruksi tuba eustachii dan dapat mengakibatkan otitis media serosa. Obstruksi dapat mengganggu pernafasan hidung, hal ini dapat menyebabkan rinolalia. Hipertropi adenoid dapat menyebabkan beberapa perubahan dalam struktur gigi dan maloklusi. Sebagian besar penderita hipertropi adenoid akan menunjukkan kelainan-kelainan telinga dan hidung yang jelas, dalam bentuk otitis media dan obstruksi hidung. Akibat mulut yang selalu terbuka, kuman mudah masuk ke dalam tubuh sehingga infeksi mudah terjadi

Diagnosis: Hipertropi adenoid dapat mengganggu proses pernafasan normal. Gangguan nafas sering ditunjukkan dengan tidur gelisah, kerap terbangun dan mimpi buruk. Secara fisik, anak yang mengalami hipertropi adenoid dapat dikenali dari wajahnya yang khas atau wajah adenoid (facies adenoid) dengan ciri-ciri mulutnya selalu terbuka, langit-langit mulut tumbuh cekung ke atas dan gigi rahang atas maju ke depan.

Pada pemeriksaan rinoskopi anterior→melihat tertahannya gerakan palatum mole pada saat fonasi, rinoskopi posterior, palpasi adenoid dan pemeriksaan radiologik (foto lateral kepala), terlihat adanya pembesaran adenoid.

Pada hiperplasia adenoid dilakukan terapi bedah adenoidektomi dengan cara kuretase memakai adenotom.

Indikasi adenoidektomi :

1. Obstruksi jalan nafas bagian atas kronis dengan akibat gangguan tidur, kor pulmonale, atau sindrom apneu waktu tidur.

2. Nasofaringitis purulen kronis walaupun penatalaknaan medik adekuat.

3. Adenoiditis kronis atau hipertropi adenoid berhubungan dengan produksi dan persistensi cairan telinga tengah.

4. Otitis media suputatif akut rekuren yang tidak mempunyai respon terhadap penatalaksaan medik dengan antibiotik profilaksis.

5. Kasus-kasus otitis media suputatif kronis tertentu pada anak-anak dengan hipertropi adenoid penyerta.

6. Curiga keganasan nasofaring.

Komplikasi adenoiditis kronis adalah infeksi yang berulang, obstruksi jalan napas yang berjalan kronis, retardasi mental dan gangguan pertumbuhan fisik

TONSILITIS KRONIS

Tonsilitis Kronis adalah radang kronik pada tonsila palatina.

Mikroskopik tonsil → 3 komponen: jaringan ikat, folikel germinativum (merupakan sel limfoid) dan jaringan interfolikel (terdiri dari jaringan linfoid).

Tonsil adalah massa yang terdiri dari jaringan limfoid yang mengandung sel limfosit, 0,1-0,2% dari keseluruhan limfosit tubuh pada orang dewasa. Proporsi limfosit B dan T pada tonsil adalah 50%:50%, sedangkan di darah 55-75%:15-30%. Pada tonsil terdapat sistim imun kompleks yang terdiri atas sel M (sel membran), makrofag, sel dendrit dan APCs (antigen presenting cells) yang berperan dalam proses transportasi antigen ke sel limfosit sehingga terjadi sintesis imunoglobulin spesifik. Juga terdapat sel limfosit B, limfosit T, sel plasma dan sel pembawa IgG.

Tonsil merupakan organ limfatik sekunder yang diperlukan untuk diferensiasi dan proliferasi limfosit yang sudah disensitisasi. Tonsil mempunyai 2 fungsi utama yaitu 1) menangkap dan mengumpulkan bahan asing dengan efektif; 2) sebagai organ utama produksi antibodi dan sensitisasi sel limfosit T dengan antigen spesifik.

Tonsilitis kronis disebabkan oleh kuman penyebab tonsilitis akut (bakteri gram positif). Kadang bakteri gram positif ini berubah menjadi bakteri gram negatif.

Faktor predisposisi timbulnya tonsilitis kronik ialah rangsangan yang menahun dari rokok, beberapa jenis makanan, higiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca, kelelahan fisik dan pengobatan tonsilitis akut yang tidak adekuat

Diawali karena adanya radang kronis yang berulang, maka selain epitel mukosa juga terkikis, sehingga pada proses penyembuhan jaringan limfoid ikut terkikis, kemudian diganti oleh jaringan parut. Jaringan parut ini akan mengalami pengerutan. Kelompok jaringan limfoid mengerut, sehingga ruang antara kelompok melebar. Hal ini secara klinik tampak sebagai pelebaran kriptus dan kriptus ini diisi oleh detritus. Proses ini akan berjalan terus sampai menembus kapsul dan terjadi perlekatan dengan jaringan sekitar tonsilaris. Adenoid yang hipertropi terjadi akibat adanya kompensasi dari kerja adenoid dalam menyaring kuman dan invasi bakteri sehingga lama kelamaan adenoid tersebut mengalami hipertropi.

Diagnosis : Gejala tonsilitis kronis diantaranya adalah adanya rasa mengganjal di tenggorok, terasa kering dan nafas berbau. Pada pemeriksaan ditemukan adanya pembesaran tonsil, dengan permukaan yang berbenjol-benjol dan kriptus yang melebar

Pemeriksaan kultur, uji resistensi kuman dari sediaan apus tonsil, tes ASTO dan pemeriksaan darah rutin

Terapi lokal : higiene mulut dengan berkumur atau obat hisap. Terapi radikal dengan tonsilektomi bila terapi medikamentosa tidak berhasil. indikasi tonsilektomi adalah:

· Indikasi absolut :

1. Timbulnya cor pulmonale karena obstruksi jalan nafas yang kronis.

2. Hipertropi tonsil atau adenoid dengan sindroma apnea waktu tidur.

3. Hipertropi berlebihan yang menyebabkan disfagia dengan penurunan berat badan penyerta.

4. Biopsi eksisi yang dicurigai keganasan (limfoma).

5. Abses peritonsilaris berulang atau abses yang meluas pada ruang jaringan sekitarnya.

· Indikasi relatif :

1. Serangan tonsilitis berulang yang tercatat, tonsilitis terkait streptococcus menetap dan patogenik.

2. Hipertropi tonsil dengan obstruksi fungsional.

3. Riwayat demam rematik.

4. Radang tonsil kronis tidak responsif terhadap terapi medikamentosa

Komplikasi tonsilitis kronik adalah rinitis kronis, sinusitis, atau otitis media secara perkontinuitatum. Komplikasi jauh terjadi secara hematogen dan limfogen dapat timbul endokarditis, artritis, miositis, nefritis, uveitis, iridosiklitis, dermatitis, pruritus, urtikaria dan furunkulosis

ADENOTONSILITIS KRONIS EKSASERBASI AKUT

Adenotonsilitis kronis eksaserbasi akut adalah radang kronik pada adenoid dan tonsila palatina yang sedang mengalami serangan akut

Diawali karena adanya proses peradangan kronis pada tonsila palatina yang terus berjalan hingga mengurangi fungsinya sebagai jaringan limfoid. Penurunan fungsi dari tonsila palatina ini

akan menyebabkan jaringan limfoid sekitarnya untuk mengkompensasi kerjanya dalam menyaring kuman dan invasi bakteri sehingga lama kelamaan adenoid akan mengalami hipertropi

Diagnosis : Gejala dan tanda Adenotonsilitis Kronis Eksaserbasi Akut merupakan gabungan antara gejala dan tanda adenoiditis kronis dan tonsilitis kronis, yang disertai adanya gejala dan tanda serangan akut.

Gejala serangan akut yang mungkin ditemukan adalah nyeri tenggorok, nyeri menelan, demam dengan suhu tubuh yang tinggi, rasa lesu, rasa nyeri disendi-sendi, tidak nafsu makan dan rasa nyeri ditelinga (otalgia). Sedangkan tanda serangan akut yang mungkin ditemukan adalah tonsil membengkak, hiperemis, dan terdapat detritus berbentuk folikel, lakuna atau tertutup dengan membran semu. Kelenjar submandibula membengkak dan nyeri tekan.

Pemeriksaan radiologi dengan membuat foto lateral kepala, yaitu X- Foto Soft Tissue Nasofaring rasio adenoid, pemeriksaan kultur, uji sensitifitas, tes ASTO dan pemeriksaan darah rutin

Terapi Adenotonsilitis Kronis Eksaserbasi Akut dengan pemberian terapi medikamentosa terlebih dahulu guna meredakan gejala dan tanda inflamasi yang ada. Pemberian antibiotika spektrum luas, anti inflamasi, antipiretik dan obat kumur yang mengandung disinfektan

Setelah gejala dan tanda inflamasi yang menyertai sudah mereda maka perlu dilakukan terapi pembedahan pengangkatan adenoid dan tonsil, yaitu adenotonsilektomi.

kasus

ku: rinore, sekret seromukous, obstruksi nasal (+), Febris (+), Disfagia (+),Odinofagi (+), Stridor saat tidur (+), Malaise (+), nafsu makan menurun (+). Pilek, batuk dan demam kumat-kumatan >6x dalam 1 tahun terakhir.

· Rinoskopi Anterior

Discharge : Seromukous (ka)

Konka Inferior : Hipertropi(+) (ka)

Meatus Media : Sekret seromukous (+) (ka)

· Pemeriksaan Orofaring

Tonsil : T2 T2

Permukaan : Berbenjol-benjol, Hiperemi

Kripte : Melebar

· Nasofaring

Adenoid : Palatal phenomen (-)

: Palpasi Adenoid tidak dilakukan.

Pp : X-Foto Soft Tissue Nasofaring Ratio Adenoid

DD :

1. Adenotonsilitis Kronis Eksaserbasi Akut.

2. Tonsilitis Kronis Eksaserbasi Akut.

3. Rinitis Kronis Eksaserbasi Akut.

4. Tonsilofaringitiis Kronis Eksaserbasi Akut.

DS : ADENOTONSILITIS KRONIS EKSASERBASI AKUT

Th/ : Medikamentosa untuk mengatasi gejala akutnya.

· Antibiotik.

· Dekongestan.

· Antipiretik.

Bila gejala akut telah mereda, maka lakukan tindakan operatif :

Adenotonsilektomi

Tidak ada komentar: